Jumat, 03 Juli 2015


Pada kesempatan ini saya akan sedikit membagikan sebuah materi tentang berpikir dan intelegensi. yang akan disajikan dalam makalah dibawah ini, Selamat membaca :)
Apa itu Berpikir? bagaimana otak saat berpikir?

BAB II
PEMBAHASAN
A.    PROSES BERPIKIR
Simbol-simbol yang digunakan dalam berpikir pada umumnya berupa kata-kata atau bahasa (language), karena itu sering dikemukakan bahwa bahasa dan berpikir mempunyai kaitan yang erat. Dengan bahasa manusia dapat menciptakan ratusan, ribuan simbol-simbol  yang memungkinkan manusia dapat berpikir begitu sempurna apabila dibandingkan dengan makhluk lain. Sekalipun bahasa merupakan alat yang cukup ampuh ( powerful ) dalam proses berpikir, namun bahasa bukan satu-satunya alat yang dapat digunakan dalam proses berpikir, sebab masih ada lagi yang dapat digunakan yaitu bayangan atau gambaran ( image ). Untuk menjelaskan hal ini diberikan contoh sebagai berikut. Bayangkan bahwa Anda di suatu tempat di sudut kota misalnya di Bulaksumur, dan anda diminta datang di Kraton. Dalam kaitan ini anda akan menggunakan gambaran atau bayangan kota Yogyakarta, khususnya yang berkaitan dengan Bulaksumur dan kraton, dan menentukan jalan- jalan mana saja yang akan ditempuh untuk berangkat dari Bulaksumur  sampai di Kraton. Jadi disini anda menggunakan gambaran atau bayangan  (image) yang merupakan visual map atau juga disebut sebagai cognitive map yang memberikan gambaran tentang keadaan yang dihadapi. Biasanya seseorang memasuki suatu kota atau tempat  yang baru, akan memperoleh gambaran tentang kota atau tempat yang baru itu dan ini memberikan gambaran kepada orang yang bersangkutan, atau memberikan visual map atau cognitive map. Ini yang sering disebut non-verbal thinking. Demikian pula apabila orang berpikir menggunakan skema-skema tertentu, atau gambar-gambar tertentu termasuk dalam klasifikasi tersebut.
Walaupun berpikir dapat menggunakan gambaran-gambaran atau bayangan-bayangan atau image, namun sebagian terbesar dalam berpikir orang menggunakan bahasa atau verbal, yaitu berpikir dengan menggunakan simbol-simbol bahasa dengan segala ketentuan-ketentuannya. Karena bahasa merupakan alat yang penting dalam berpikir,maka sering dikemukakan orang bila seseorang itu berpikir, orang itu bicara dengan dirinya sendiri.
Proses atau jalannya berpikir itu pada pokoknya ada tiga langkah, yaitu :
1. Pembentukan Pengertian
Pengertian, atau lebih tepatnya disebut pengertian logis di bentuk melalui tiga tingkatan, sebagai berikut:
a. Menganalisis ciri-ciri dari sejumalah obyek yang sejenis. Obyek tersebut kita perhatikan unsur - unsurnya satu demi satu. Misalnya maupun membentuk pengertian manusia. Kita ambil manusia dari berbagai bangsa lalu kita analisa ciri-ciri misalnya :
Manusia Indonesia, ciri - cirinya :
* Mahluk hidup
* Berbudi
* Berkulit sawo mateng
* Berambut hitam
* Dan sebagainya
Manusia Eropa, ciri - cirinya :
* Mahluk hidup
* Berbudi
* Berkulit Putih
* Berambut pirang atau putih
* Bermata biru terbuka
* Dan sebagainya
Manusia Negro, ciri - cirinya:
* Mahluk hidup
* Berbudi
* Berkulit htam
* Berambut hitam kriting
* Bermata hitam melotot
* Dan sebagainya
Manusia Cina, ciri - cirinya:
* Mahluk Hidup
* Berbudi
* Berkulit kuning
* Berambut hitam lurus
* Bermata hitam sipit
* Dan sebagainya
Dan manusia yang lain - lainnya lagi.
b. Membanding - bandingkan ciri tersebut untuk diketemukan ciri - ciri mana yang sama, mana yang tidak sama, mana yang selalu ada dan mana yang tidak selalu ada mana yang hakiki dan mana yang tidak hakiki.
c. Mengabstraksikan, yaitu menyisihkan, membuang, ciri-ciri yang tidak hakiki, menangkap cirri-ciri yang hakiki. Pada contoh di atas ciri - ciri yang hakiki itu ialah: Makhluk hidup yang berbudi.
2. Pembentukan Pendapat
Membentuk pendapat adalah meletakkan hubungan antara dua buah pengertian atau lebih. Pendapat yang dinyatakan dalam bahasa disebut kalimat, yang terdiri dari pokok kalimat atau subyek dan sebutan atau predikat.
Selanjutnya pendapat dapat dibedakan menjadi 3 macam yaitu :
               a. Pendapat Afirmatif atau positif, yaitu pendapat yang menyatakan keadaan sesuatu, Misalnya Sitotok itu pandai, Si Ani Rajin dan sebagainya.                                                                      b. Pendapat Negatif, Yaitu Pendapat yang menidakkan, yang secara tegas menerangkan tentang tidak adanya seuatu sifat pada sesuatu hal : Misalnya Sitotok itu Bodoh Si Ani Malas dan sebagainya.                                                                                                    c. Pendapat Modalitas atau kebarangkalian, Yaitu Pendapat yang menerangkan kebarangkalian, kemungkinan - kemungkinan sesuatu sifat pada sesuatu hal ; misalnya hari ini mungkin hujan, Si Ali Mungkin tidak Datang. Dan sebagainya.
3. Penarikan Kesimpulan atau Pembentukan Keputusan
Keputusan adalah hasil perbuatan akal untuk membentuk pendapat baru berdasarkan pendapat-pendapat yang telah ada. Ada 3 macam keputusan, Yaitu
a. Keputusan induktif
yaitu keputusan yang diambil dari pendapat - pendapat khusus menuju ke satu pendapat umum. Misalnya :
Tembaga di panaskan akan memuai
Perak di panaskan akan memuai
Besi di panaskan akan memuai
Kuningan di panaskan akan memuai Jadi (kesimpulan). Bahwa semua logam kalau dipanaskan akan memuai (Umum)
b. Keputusan Deduktif
Keputusan deduktif ditarik dari hal yang umum ke hal yang khusus , Jadi berlawanan dengan keputusan induktif. Misalnya : Semua logam kalau dipanaskan memuai (umum), tembaga adalah logam. Jadi (kesimpulan) : tembaga kalau dipanaskan memuai Contoh lain : Semua manusia terkena nasib mati, Si Karto adalah manusia Jadi pada suatu hari si Karto akan mati.
c. Keputusan Analogis
Keputusan Analogis adalah Keputusan yang diperoleh dengan jalan membandingkan atau menyesuaikan dengan pendapat-pendapat khusus yang telah ada. Misalnya : Totok anak pandai, naik kelas (Khusus). Jadi (kesimpulan) Si Nunung anak yang pandai itu, tentu naik kelas.

B.     BENTUK-BENTUK BERPIKIR
1.      Berpikir dengan pengalaman (routine thinking)
Dalam bentuk berpikir ini kita banyak giat menghimpun berbagai pengalaman, dari berbagai pengalaman pemecahan masalah yang kta hadapi. Kadang-kadang satu pengalaman dapat dipercaya atau dilengkapi oleh pengalaman-pengalaman yang lain.
2.      Berpikir representatif
Dengan berpikir representatif, kita sangat bergantung pada ingatan-ingatan dan tanggapan-tanggapan saja. Tanggapan-tanggapan dan ingatan-ingatan tersebut kita gunakan untuk memecahkan masalah yang kita hadapi.
3.      Berpikir kreatif
Dengan berpikir kreatif, kita dapat menghasilkan sesuatu yang baru, menghasilkan penemuan-penemuan baru. Kalau kegiatan berpikir kita untuk menghasilkan sesuatu dengan menggunakan metode-metode yang telah dikenal,maka dikatakan berpikir produktif, bukan kreatif.
Tingkatan-tingkatan dalam berpikir kreatif :
1.      Persiapan (preparation), yaitu tingkatan seseorang menginformasikan masalah, dan mengumpulkan fakta-fakta atau materi yang dipandang berguna dalam memperoleh pemecahan yang baru. Ada kemungkinan apa yang dipikirkan itu  tidak segera memperoleh pemecahannya, tetapi soal itu tidak hilang begitu saja, tetapi masih terus berlangsung dalam dri individu yang bersangkutan. Hal ini menyangkut fase atau tingkatan kedua yaitu fase inkubasi.
2.      Tingkat inkubasi, yaitu berlangsungnya masalah tersebut dalam jiwa seseorang, karena individu tidak segera memperoleh pemecahan masalah.
3.      Tingkat pemecahan atau iluminasi, yaitu tingkat mendapatkan pemecahan masalah, orang mengalami “aha”, secara tiba-tiba memperoleh pemecahan tersebut.
4.      Tingkat evaluasi, yaitu mengecek apakah pemecahan yang diperoleh pada tingkat iluminasi itu cocok atau tidak. Apabila tidak cocok lalu meningkat pada tingkat berikutnya yaitu
5.      Tingkat revisi, yaitu mengadakan revisi terhadap pemecahan yang diperolehnya.
Sifat-sifat orang yang berpikir kreatif :
1.      Memilih fenomena atau keadaan yang kompleks.
2.      Mempunyai psikodinamika yang kompleks, dan mempunyai skope pribadi yang luas.
3.      Dalam judgement-nya lebih mandiri.
4.      Dominan dan lebih besar pertahanan diri (more self-assertive).
5.      Menolak suppression sebagai mekanisme kontrol.

4.      Berpikir reproduktif
Dengan berpikir ini, kita tidak menghasilkan sesuatu yang baru, tetapi hanya sekadar memikirkan kembal dan mencocokan dengan sesuatu yang telah dpkirkan sebelumnya.
5.      Berpikir rasional
Untuk menghadapi suatu situasi dan memecahkan masalah digunakanlah cara-cara berpikir logis. Untuk berpikir ini tidak hanya sekedar mengumpulkan pengalaman dan membanding-bandingkan hasil berpkir yang telah ada, melainkan dengan keaktifan akal kita memecahkan masalah.

C.    PENGERTIAN INTELEGENSI
Menurut W. Stern, intelegensi adalah kesanggupan jiwa untuk dapat menyesuaikan diri            dengan cepat dan tepat dalam suatu situasi yang baru.
Menurut V. Hees, intelegensi adalah sifat kecerdasan jiwa.
Inteligensi menurut hasilnya, dibagi dua :
·         Intelegensi praktis → inteligensi untuk mengatasi suatu situasi yang sulit dalam suatu kerja yang berlangsung secara cepat dan tepat.
·         Intelegensi teoritis → inteligensi untuk mendapatkan suatu pikiran penyelesaian soal dengan cepat dan tepat.
Faktor-faktor yang mempengaruhi intelegensi :
·         Pembawaan
·         Kematangan
·         Pembentukan
·         Minat
Menurut Binet dan W. Stern, intelegensi tidak dapat dikembangkan. Namun, Prof. Kohnstamm berpendapat lain. Intelegensi dapat dikembangkan, walaupun hanya dari segi kualitasnya saja, dengan ketentuan :
·         Pengembangan itu hanya sampai pada batas kemampuannya saja.
·         Dibatasi oleh mutu intelegensi.
·         Bergantung pada cara pikir seseorang.

D.    TEST INTELEGENSI
Perkembangan tes intelegensi
1.      Fase persiapan
Para ahli sedang mencari/berusaha mendapatkan tes intelegensi. Berlangsung hingga tahun 1915.
2.      Fase naif
Hasil tes yang ditemukan digunakan tanpa kritik. Tes ini dianggap sebagai dasar yang kuat dalam menentukan berbagai macam kemampuan manusia. Berlangsung dari ±1915 - ±1935.
3.      Fase mencari tes yang bebas dari pengaruh kebudayaan (culture free test)
Dari tahun ±1935-±1950. Usaha ini gagal.
4.      Fase kritis
Dimulai tahun 1950, terus berlangsung sampai sekarang.
Kelemahan tes intelegensi
1.      Tergantung pada kebudayaan.
2.      Hanya cocok untuk  jenis tingkah laku tertentu.
3.      Hanya cocok untuk tipe kepribadian tertentu. Misal: harus menurut saja, mengikuti aturan tes.
4.      Perbandingan IQ yang ditunjukkan oleh tes tidak semata-mata tergantung pada keturunan/dasar.
5.      Perbandingan IQ seseorang tidak konstan.
6.      Penggolongan menurut IQ diikuti pedoman yang harus diterima dengan hati-hati.
IQ 50 dan 69 yang selisihnya 19, termasuk dalam satu golongan.
7.       Tes intelegensi masih mengandung kekeliruan-kekeliruan dalam sistem penyusunannya.
Perkembangan tes intelegensi
·         Tes Binet
Hasil penemuan dari Alfred Binet yang dikeluarkan tahun 1905. Wujudnya masih sangat sederhana, terdiri dari 30 item.
·         Tes Binet-Simon
Merupakan penyempurnaan dari tes sebelumnya, dibantu oleh Simon. Diterbitkan tahun 1908. Digunakan untuk anak usia 3-15 tahun. Konsepsi yang orisinal pada tes ini, tentang adanya umur yang dua macam:
Ø  Umur kalender/umur kronologis (chronological age/CA) yakni umur sebagaimana ditunjukkan hari kelahirannya.
Ø  Umur kecerdasan/umur intelegensi (mental age/MA) yakni umur sebagaimana ditunjukkan dalam tes.
Menentukan normal tidaknya anak berdasarkan pedoman selisih tetap. Bila MA 3 tahun atau lebih, kurang dariCA, maka anak tersebut kurang normal.
·         Model tes Binet
Menjadi model bagi para ahli untuk penyempurnaan di bidang tes intelegensi. Merupakan hasil evaluasi oleh Binet dan Simon dari tes sebelumnya. Tes ini diterbitkan tahun 1911.
Kongres Psikologi Internasional di Geneva, permulaan 1912 menghasilkan keputusan bahwa untuk menentukan status seseorang dalam hal intelegensi, pedoman yang tepat bukanlah pedoman selisih tetap, melainkan perbandingan  tetap.
IQ =     bekerja dengan rumus ini ditemukan bilangan pecahan. Untuk memudahakan, diperbanyak dengan nilai yang tidak mengubah perbandingan aslinya. Sehingga  IQ =  x 100%  untuk mudahnya % sering dihilangkan, sehingga rumus yang populer  IQ =  x100    jika hasilnya:

a)      <100 → kurang normal
b)      =100 → normal
c)      >100 → supernormal

·         Stanford Revision Tes/ Stanford-Binet Scale/ Binet Scale
Penyempurnaan model tes Binet tahun 1916 oleh L.M.Terman, bekerja di Universitas Stanford. Perbaikan yang dilakukan :
Ø  Tiap tahun ada 6 item, tiap item bernilai 2 bulan umur kecerdasan.
Ø  Daerah berlakunya lebih luas, dari anak berumur 2,6 th-18 th.
·         Revisi model tes binet oleh M.D.Merril
Diterbitkan tahun 1937. Kemudian terkenal di mana-mana. Misal : Luningpraak menyadur dan menyesuaikannya dengan kondisi di Belanda.
·         Revisi model tes binet tahun 1960
·         Brightness test
Buatan Masselon, disebut juga three words test. Testee diberi 3 kata, kemudian diminta membuat kalimat logis sebanyak-banyaknya dengan ketiga kata tersebut.
·         Telegram test
Testee diminta membuat berita dalam bentuk telegram.
·         Definitive test
Testee diminta untuk mendefinisikan sesuatu.
·         Wiggly test
Testee menyusun kembali balok-balok yang tercerai-berai (yang awalnya sudah disusun dalam suatu pola tertentu) menjadi seperti semula. Waktu yang digunakan dicatat dengan teliti.
·         Stenquist test
Testee diminta mengamati benda sebaik-baiknya. Lalu benda tersebut dirusak. Testee harus menyusun kembali sisa benda tersebut hingga menjadi seperti semula.
·         Absurdity test
Testee diminta mencari suatu kemustahilan dalam suatu cerita.
·         Medaillon test
Testee diminta menyelesaikan gambar yang baru sebagian atau belum terselesaikan.
·         Educational (schollastik) mental test
Test yang biasanya diberikan di sekolah-sekolah,semisal ulangan, ujian, dll.
·         The Wechsler Tests 
 Karena beberapa keterbatasan dari tes inteligensi Binet, pada tahun 1939 David Wechsler dari Rumah Sakit Bellevue, New York, mengembangkan tes inteligensi yang baru. Wechsler membuat dua bentuk tes, yaitu tes inteligensi untuk anak-anak dikenal dengan nama Wechsler Intelligence Scale for Children-Revised (WISC-R) yang diperkenalkan pada tahun 1974, dan tes inteligensi untuk dewasa yaitu Wechsler Adult Intelligence Scale (WAIS) yang diperkenalkan pada tahun 1955.
1.   Wechsler Intelligence Scale for Children Revised (WISC-R)
WISC-R, cocok untuk anak usia 5-15 tahun, terdiri dari 12 sub tes, enam verbal dan enam nonverbal. Tes verbal diantaranya sub tes information, general comprehension, arithmetic, similarities, dan vocabulary. Sedangkan tes performa diantaranya meliputi picture completion, picture arrangement, dan block design.
Tes ini memiliki klasifikasi IQ:
Ø  Very Superior                    : IQ di atas 130
Ø  Superior                             : IQ 120-129
Ø  Bright Normal                   : IQ 110-119
Ø  Average                                   : IQ 90-109
Ø  Dull Normal                       : IQ 80-89
Ø  Borderline                          : IQ 70-79
Ø  Mental Defective                : IQ 69 ke bawah
2.      Wechsler Adult Intelligence Scale (WAIS)
WAIS digunakan untuk klien berusia di atas 16 tahun. Subtes WAIS memiliki format yang sama dengan WISC-R, namun tentu saja pertanyaannya disesuaikan dengan usia klien. Baik WISC-R dan WAIS berbentuk point scales. Setiap subtes memiliki raw score yang diubah ke dalam equivalent weighted score. Dan klien memperoleh tiga bentuk IQ, yaitu IQ verbal, performance dan full-scale.
Contoh tes IQ
Anak-anak yang di tes diberi soal, dimulai dari item untuk umur yang paling rendah, berangsur-angsur ke umur berikutnya sampai testee tidak dapat menjawabnya sama sekali.
Setelah didapat data mengenai soal yang terjawab, berikutnya dihitung umur MA anak tersebut. Data berikut adalah contoh tes yang dilakukan pada anak dengan CA 8;0:
Item untuk
umur
Item ke
1
2
3
4
5
6
3;0
X
X
X
X
X
X
4;0
X
X
X
X
X
X
5;0
X
X
X
X
X
X
6;0
X
X
X
X
X
X
7;0
X
X
X
X
X
X
8;0
X
X
X
-
-
-
9;0
X
X
-
-
-
-
10;0
X
-
-
-
-
-
11;0
-
-
-
-
-
-
 Ket: X=jawaban benar
          -=jawaban salah
     MA anak yang dites itu ialah: 7;0+0;6+0;4+0;2=8;0
     Atau 7+3/6+2/6+1/6=8
IQ= X 100 =  x 100 =100, anak tersebut normal.


Penggolongan manusia atas dasar IQ menurut Woodworth dan marquis (1995, p.54)
Di atas 140→ luar biasa, genius
120-139→ cerdas sekali, very superior
110-119→ cerdas, superior
90-109→ sedang, average
80-89 →bodoh, dull average
70-79 →anak pada batas, border line
50-69 →debil, moron
30-49→ ambisil, embicile
Di bawah 30→ idiot












BAB III
PENUTUP

A.    KESIMPULAN
Ø  Berpikir merupakan sebuah proses yang melibatkan beberapa manipulasi pengetahuan dalam sistem kognitif. Berpikir diarahkan dan menghasilkan perilaku yang memecahkan masalah atau diarahkan pada solusi.
Ø  Macam-macam bentuk berpikir :
·         Berpikir dengan pengalaman (routine thinking)
·         Berpikir representatif
·         Berpikir kreatif
·         Berpikir reproduktif
·         Berpikir rasional
Ø  Ada beberapa tes intelegensi yang digunakan untuk mengetahui intelegensi seseorang, yaitu :
·         The binet tests
·         Wechsler Intelligence Scale for Children Revised (WISC-R)
·         Wechsler Adult Intelligence Scale (WAIS)

B.     SARAN
Ø  Hendaknya kita selalu meningkatkan kemampuan berpikir kita.
Ø  Proses berpikir hendaklah dilakukan secara objektif supaya menghasilkan keputusan yang tepat.

Ø  Hendaknya kira memupuk kreativitas dalam berpikir.

Ø  Sebaiknya tidak menganggap tes IQ sebagai patokan yang mutlak terhadap prestasi seseorang.
Sumber:
Ahmadi, Abu. 2003. Psikologi Umum. Jakarta : PT. Rineka Cipta.
Sujanto, Agus. 2008. Psikologi Umum. Jakarta : Bumi Aksara.
Suryabrata, Sumadi. 2004. Psikologi Pendidikan (edisi V). Jakarta:
                   PT.Raja Grafindo Persada.
Walgito, Bimo. 2004. Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta : Penerbit Andi.
http://www.freewebs.com/bunda_psiko/testofintelligence.htm